Showing posts with label Aku dan Kehidupan Ku. Show all posts
Showing posts with label Aku dan Kehidupan Ku. Show all posts

Monday, August 11, 2014

Jeda memenuhi janjinya

Segala sesuatu memang harus memiliki jeda. Jeda tenang pada ikatan yang melingkari keberadaan kita, jeda tenang pada hubungan yang melindungi perasaan kita, jeda tenang pada apa yang akan kita lakukan nantinya, jeda tenang pada semua pengucapan doa yang sempat tertunda, dan tak sempat kita ucapkan. Juga teruntuk jeda tenang pada lebih mensakralkan harapan dalam tak mengulangi lagi kesalahan sama yang sebelum jeda ini benar benar memiliki arti berjeda terjadi dan kemudian kita rasakan seperti saat ini misalnya.

Bukannya ingin mempermalukan diri di hadapan waktu atau tak berisyarat setia pada semua yang mengamini adanya kita dan hubungan indah beribu hari kebelakang dalam skala dua persatu. Aku dan kamu

Bukannya ada ketenangan lain yang hadir lalu menghentikan beberapa langkah pasti yang sama sama kita lihat lewat bayangan diri yang tak sekedar membayang berkelebat. Bukannya begitu karna ini atau begini karna itu seperti yang salah satu dari kita terka. Bukannya menghadirkan dalih perlawanan diri dalam bentuk penolakkan pernyataan tapi sudah waktunya, sudah waktunya segala hal yang kita rasa dalam turunan waktu dan kita beri makna pada rentan aku bagi mu dan kamu untuk ku untuk punya celah menghela nafas. Untuk punya keleluasaan dalam hal merasakan kebebasan moment walau sejenak, walau sesaat.

Aku tau kamu tak akan pernah bisa memahami bagaimana ini bagiku. Aku tau ini terlalu rumit untuk bisa kau cerna sebagaimana adanya dirimu.

Tapi bukan, aku tak sedang menyampaikan keluh kesah ku lewat susunan kalimat bernada serupa puisi. Aku tak sedang resah akan jarak dan waktu yang tak jua sama. Hanya saja sepertinya jeda yang ku katakan sudah akan memenuhi janjinya untuk hadir di tengah kita. Biarlah, sebelum maknanya menjadi berbeda dan segalanya tak lagi sama :)

Thursday, July 10, 2014

Memenjara Makna

1930 dunia pasca guncangan pertama mortar-mortar negara yang mengangkat senjata berdiri bersuara, hiburan sebelum prajurit turun gelanggang sebagai bagian dari berperang hanya meliputi otot, beer, tembakau dan selangkangan perempuan. Berjalan menuju deck kapal yang mengarah ke pantai normandia untuk serangan terakhir siapa yang nantinya akan di cap sebagai bedebah di masa (depan) di setiap buku sejarah. Lalu era dimana di sebagian dunia menata wajahnya karena berabad di jajah. Negara koloni yang mencari muka pada yang bermuka dua. di barat sana manusianya berpakaian sarat makna juga ikat kepala dengan ganja dan wanita. Berjemur pada alam seraya menari seirama nada. Menyatu dengan setiap molekul kehidupan yang ada. Meresapi semua. Dan menyembah sound saat Jim Morrisson menyapa. tak jauh di sebelah mobil vw mereka ada remaja sebayanya teler oleh selinting ganja dengan di iringi alunan bob marley yang ternyata nantinya pun akan di bawakan oleh fantasi banyak remaja pria dengan wajah menawan, suara yang menggairahkan sempurnya paha dan dada wanita bernama rihanna

1980 tak menyajikan banyak pembeda. Alunan koboy pasca era keemasannya masih sesekali menampakkan suara di tengah bisingnya industri nada. Mereka yang berdasi berkelompok bermusik bagai pastor yang orgasme di atas panggung sesaat sesudah bersenggama dengan suster berkacamata, bersalibkan doa. Pertengahan jalan bagi anak muda berambut jabrik dan sepupunya yang memakai jaket penuh emblem dimana mana. Serta bab tengah bagi hip hop head yang setia berselera pada wu tang, nwa, tupac hingga eminem yang bertutur penuh amarah.

Itu mereka, itu dulu dan mungkin akan kami lupakan begitu saja tanpa memberikan janji bahwa tak akan mengingatnya sesekali sebagai pembangkit tipis detak nadir nostalgia.

Di eraku sejak baru mengenal blink 182 mempopulerkan punk kepada dunia dalam kemasan yang berbeda hingga saat ini seperti saat caspian menghujam ku sekeras misil misil hisbullah musik bukan hanya seperti berdasawarsa sebelumnya. Yang penuh alat dan pemainnya. Kini cukup dengan instrumen dasar seadanya tanpa di perkosa elektronika. Cukup getir nada gitar, detak jantung pada drum, dan kebijakan bass yang mempertebal makna. Keyboard, harpa dan biola membantu sebisanya. Tapi menyajikan apa itu nada yang sebenarnya, dengan sopan mengantarkan kita menuju bawah sadar sebelum kemudian merasa tenang dan otak terisi dengan keluarga, doa, dan sesama. Pencerahan sempurna yang tak pernah memasukkan terlalu banyak kata dan tanpa sederet kalimat yang bisa di dapat kapan saja dalam nama post rock.

Jika tidak percaya coba saja hitung jika bisa berapa banyak penjelasan dan nama dalam bahasa dan tafsiran yang berbeda beda untuk satu saja makna tuhan yang sama. Tuhan. Iya Tuhan, Tuhan yang tak bisa di jabarkan dengan kalimat dan angka. Tuhan yang memiliki keistimewaan untuk segala hal istimewa dan lagipula memang sudah seharusnya keterbatasan tak boleh dan tak sewajarnya menerbataskan sang pencipta keterbatasan segala yang ada. Kalimat, kata, pada setiap huruf dan angka tak akan sanggup menjelaskan karena penjelasan seperti itu menodai apa yang tertulis di hati kita sebenarnya. Karena kata memenjara makna

Wednesday, March 12, 2014

A Friend Called HOPE!

Setiap manusia hampir bisa di pastikan memiliki paling tidak 1 lagu favorit, lagu kesukaannya atau bahkan lagu yang di anggap sebagai "backsound hidup". Lagu itu mungkin telah membuat mereka tersentuh dengan pesan yang terkandung di dalam nya. Apalagi jika dirasa mewakili moment penting dalam hidupnya. Saya yakin lagu itu akan menjadi penghuni tetap playlist media pemutar musik baik hp atau laptop.

Saya pun demikian. Meski setiap hari nya saya bisa mendengarkan puluhan lagu dari band / penyanyi dan genre yang berbeda-beda, mulai dari Rihanna hingga Viraemia tapi tetap ada 1 lagu yang sangat saya suka, amat sangat saya suka (selain There is a light that never goes out tentunya). Sebuah (lagu) magnum supermega opus berjudul The dead flag blues milik Goodspeed You! Black Emperor telah menjadi lagu "backsound hidup" sakral bagi saya selama beberapa tahun ini. Sebuah lagu yang judulnya terkadang masih susah saya sebutkan dari kelompok musisi hebat asal Quebec yang menamakan dirinya dengan nama yang juga tak mudah di ingat begitu saja. Bagi saya lagu itu lebih bisa memberi ketenangan dari Emmylou milik First Aid Kit, lebih sakral dari Imagine milik John Lennon, dan lebih membakar dari Motorhead dengan Ace of Spades nya.

GYBE bagi saya bukan hanya sekedar band, bahkan mungkin terlalu kurang ajar jika saya sebut mereka adalah band. Karena bagi saya mereka lebih mendekati ide dari sebuah wacana, emosi dari sebuah orasi, semangat dari sebuah pergerakan dan harapan dari sebuah doa. Mereka beranggotakan 9 orang, tapi tak memainkan orchestra ataupun melakukan musikalisasi puisi. Mereka tak memiliki vocalis tetap, tak memiliki leader, tak mau ada wawancara, dan tak pernah merilis logo, tshirt, apalagi photo press. Tentulah dengan kode etik seperti itu saya tak pernah benar benar tau bagaimana wajah orang orang di balik nama mereka. Dengan kode etik yang mereka pegang, secara tak langsung mereka telah melahirkan totalitas pembangkangan yang belum dan mungkin tak pernah berani (bisa) di lakukan oleh band lain, baik itu di era Jim Morrison hingga era One direction seperti sekarang.

Lagu mereka tidak seperti lagu yang sering kita dengarkan. Berdurasi rata-rata di atas 10 menit, berunsurkan drones panjang, kesunyian sebagai jeda di tengah beberapa instrumen, dentingan triangle, bagpipes, suara kaset loop crackling, gerimis hujan, dan letupan crescendo sebelum kembali hening. Lagu mereka instrumental, nir vocal. Sehingga membuat sebagian orang menyebutnya post-rock atas alasan memakai instrument rock. Namun bagi saya GYBE melampaui apa pun yang orang tau / pikirkan tentang musik apalagi dipersempit kedalam post-rock. Mereka selalu mampu menghadirkan moment religius setiap kli saya putar. Mulai dari slide gitar yang tenang, petikan bass yang menentramkan, sayatan biola nya yang indah tapi menyakitkan, ketukan drum yang seperti mewakili detak jantung, hingga accordion dan harpa yang saling mengisi di balik tumpukan nada indah lainnya.

GYBE hadir di waktu yang tepat dalam hidup saya. Mereka hadir hanya beberapa hari setelah saya bisa benar-benar bisa memaknai lagu mereka menjadi lebih dalam. Itu adalah masa di mana saya masih menjadi mahasiswa baru, semester 2. Yang dimana itu berarti belum genap 1 tahun saya hidup di luar rumah. Masa dimana saya kehilangan seorang ibu di suatu pagi yang meminta terus di ingat selama beberapa bulan dengan rasa sesak di dada. Masa dimana saya mulai merasakan runtuhnya harapan dan keyakinan akan banyak hal. Masa dimana perubahan-perubahan datang dan mengalir begitu saja. Masa dimana saya mulai memikirkan nasehat seorang yang pernah berkata "nanti jika kamu sudah berusia 50, kamu harus bersiap kehilangan, kamu akan banyak di tinggalkan teman dan kerabat menghadap penciptanya" lalu terus menerus membatin "nasehat itu salah besar. Saya belum saja genap berusia 20. Tapi sudah kehilangan banyak"

Saat itu saya hanya bisa duduk membiarkan lagu itu tetap terputar, seperti rokok pada nyala bara yang tak habis terbakar. Saya masih ingat bagaimana moment itu tersusun. Dari rangkaian kalimat kalimat berat yang coba di permudah lewat telepon oleh kakak perempuan saya saat mengabari kepergian ibu menghadap penciptanya pagi itu. - di ruang lain lagu itu tetap terdengar berulang. Lalu entah kenapa saya seperti bisa mendengar setiap bagian pada The dead flag blues. Mulai dari drones, petikan senar bass yang tersembunyi pada lapisan riff guitar hingga baritone seorang yang besuara menahan, seperti di posisikan sebagai prajurit penjaga pantai normandia sebelum sekutu menyerang dan diberitahu jika perang akan di menangkan pihak lawan. Seperti menutup mata di tengah rel kereta yang entah dimana bersama daun daun pohon oak yang mengering lalu menghilang. Seperti menyaksiskan langsung proses-proses kehancuran yang mengalir dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa bisa melakukan apa-apa. Sebelum kemudian suara biola menggiring saya pada 17 menit paling menggetarkan dalam hidup.

Goodspeed You! Black Emperor tak hanya merubah banyak pandangan saya tentang musik, namun juga pada dunia sejak saat itu. Mereka mengajarkan hal-hal yang bahkan tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Mereka memberikan ide-ide dan gambaran apa yang harus di lakukan ketika harapan runtuh, keyakinan memudar tetapi hidup harus tetap di lanjutkan. Dan mereka mengajarkan juga bahwa teman yang tidak akan pernah terlalu jauh meninggalkan kita ternyata bernama Harapan...

Wednesday, November 20, 2013

Permohonan senyap pada hujan

Dan hujan ini.
Menceritakan beberapa kesedihan.
Menceritakan ketegaran.
Menceritakan orang tua ku.
Menceritakan saudaraku.
Menceritakan teman-teman ku.
Menceritakan aku dan kamu.
Menceritakan hal hal-hal yang memang sebenarnya harus ku dengar tanpa
pergi berlalu kemudian menengok ke belakang saat beberapa tiba-tiba
hilang.

Hujan, tolong bertahanlah.
Hujan, tolong jangan dulu pergi.
Biarlah matahari datang di lain hari.
Hujan, tolong bertahanlah.

Cerita tak pernah usai tentang Ibu yang tak pernah bosan hadir di hati.
Hujan, tolong bertahan lah.

Cerita tentang aku yang berdiri disini.
Di kelilingi banyak hal yang sekarang harus ku hadapi sendiri.
Hujan, tolong bertahanlah.
Hujan, tolong jangan dulu pergi.
Biarlah matahari datang di lain hari.
Hujan, tolong bertahanlah.

Monday, October 21, 2013

Kangen Gajian

Aku gak tau tau harus memulai ini dari mana. Tapi yang jelas saat ini.
Hari ini dompet ku sedang berada pada titik terendah kewajarannya.
Ketidak wajarannya benar benar berada pada akhir taraf segala hal.
Setaraf balita yang berada pada fase sedang lucu lucunya.
Atau seperti mawar yang sedang berada pada taraf terindah fase
kemekarannya di tengah bulan oktober.
Yaaa walaupun aku tak tau kapan bunga mawar itu sendiri mekar dan
kenapa harus memasukkan bulan oktober ke dalam tulisan yang awalnya
aku harap bisa (setidaknya) melepas kepenatan keolektif yang aku harap
tak berlangsung terlalu lama ini.

Memang sekarang aku sudah tak memiliki pekerjaan sampingan seperti
saat masih semester 2-4.
sudah sebegitu lama nya aku memanggur hingga kadang kata menganggur
itu sendiri terlalu fasih ku terjemahkan ke dalam kegiatan (tanpa
pengulangan) yang tak berguna.
Benar benar tak berguna.
Sangking lamanya tak melakukan kegiatan produktif yang bisa memberi
beberapa lembar rupiah di akhir bulan sehingga terlambat ku sadari
jika untuk sebungkus rokok saja kadang beberapa cd album koleksi dan
jersey club sepakbola kesayangan harus menjadi korban.
Yang dimana tak sedikit dari barang barang tersebut dulunya harus ku
dapatkan dengan susah payah dan tak jarang harus merampok tabungan ku
sendiri.
Saat sudah ku dapatkan biasanya ku pakai lalu ku rawat lalu ku simpan
lalu ku pakai lagi lalu ku rawat lalu ku simpan lagi lalu ku jual
dalam bentuk sama seperti saat belum kumiliki yang lalu membuat ku tak
bisa tidur.
Tapi harus melayang ke tangan orang lain saat harus berada di saat
seperti ini.

Di saat seperti ini tak tau kenapa aku bahkan tak mau mempersilahkan
mata ku untuk mengintip dompet ku yang sudah hampir tak berpenghuni.
Di saat seperti ini entah kenapa tayangan cartoon yang biasanya bisa
membuatku sekedar meluruskan kaki di depan televisi pun terlihat
membosankan.
Di saat seperti ini tak tau kenapa bahkan playlist musik yang biasanya
mampu menjadi Moodbooster ampuh pun terlalu biasa bahkan untuk melihat
judul dari setiap lagu yang ada di dalamnya.
Di saat seperti ini Headset dan tumpukan puluhan sisa CD album band
idola tak sedikitpun berpindah dari tempat awalnya beberapa hari ini.
Di saat seperti ini entah kenapa setiap batang rokok begitu cepat terbakar.
Entah kenapa setiap lembar 50'an dan 100'an terakhir rupiah begitu
cepat terpecah lalu hilang seperti buku yang habis terbaca tanpa
adanya mukadimah.

Aku butuh pekerjaan, sangat butuh pekerjaan.
Bukan untuk sekedar menutupi kebutuhan ku akan ini dan itu tapi juga
untuk mengisi waktu luangku yang memang sudah sebegitu membosankannya
hingga harus ada tumpukan kalimat bernada keluhan pada paragraf tanpa
benar benar tersusun seperti sebuah paragraf sebelum paragraf ini
tertulis seperti ini.
Aku butuh pekerjaan, bukan untuk membeli ini dan itu yang hanya
sekedar menjadi pemuas keinginan ku, tapi aku butuh pekerjaan untuk
tak lebih lama lagi membebani abah seperti sejauh ini.

Aku butuh pekerjaan. Ya aku butuh pekerjaan dengan alasan aku memang
membutuhkan pekerjaan yang dengan artian bahwa (sekali lagi) aku butuh
pekerjaan.
Aku butuh kegiatan yang ter schedule. Untuk nantinya ku keluhkan lagi
dalam bentuk rengekan meminta liburan tapi paling tidak bisa membuatku
tak terus menerus berada di posisi seperti saat ini. Dan aku butuh
pekerjaan karena sesungguhnya.
Aku dompetku, dan aku dan dompet ku, Dan aku. KANGEN GAJIAN!!!

Wednesday, July 3, 2013

Hidup ku Normal!

Hujan sepagi ini terasa sangat dermawan bagiku, mereka mengunjungi
awal Juli membawa butiran air dengan kepasitas yang tak bisa disebut
seenaknya, tak konstan untuk mengagetkan ku lalu terburu menghentikan
laju motor seperti beberapa waktu yang lalu saat sedang menuju
samarinda. Karna kli ini aku sedang di rumah, memandanginya dengan
teduh dan damai. Walaupun tak sedamai senyuman Riska.

Hujan tak mengganggu ku mengingat kegiatan untuk beberapa hari ini
memang tak lebih dari berbaring dan nonton tv. Yang hal itu kadang tak
bisa ku lakukan dengan khusuk seperti biasanya. Karna tak tau kenapa
beberapa hari belakangan PLN seperti menarik ulur aliran listriknya.
Seperti isyu konser metallica yang hingga saat ini belum aku tau pasti
kapan akan di gelar. Biarlah toh kalaupun hajatanya benar-benar
digelar, rasanya Jakarta masih cukup jauh dari jangkauan waktu dan
dompet ku. Ironi, bukannya tak memiliki kemauan untuk tak merasakan
emosi dan dentuman sound kapasitas monster langsung dari crowd. Tapi
biarlah aku berfantasi lewat nothing else matter atau enter sandman
melalui headset dari hp nokia kesayangan yang sekarang sudah hampir
penuh dengan beberapa genre musik dari negri balkan dan skandinavia,
untuk kemudian memperoleh predikat hipster? Bukan, itu karna aku
memang suka. Semua itu ku lakukan sambil memandangi poster formasi
lama mereka di bawah jam dinding kamar. Betapa ironisnya...

Kembali dengan damainya kenyataan hari ini. Saat terbangun dari kasur
yang kadang tak terlalu mebuatku terlelap ini aku lalu bergegas menuju
kamar mandi kecil di belakang dapur, selesai dari situ aku keluar. Dan
mendapati orang yang tinggal di samping rumah sedang menghayati
perannya sebagai bapak dari 2 putri kecilnya. Lalu temannya datang
dengan truck berwarna mainstream ala truck kebanyakan dan mengomel
dengan maksud mengadu pada temannya yang sedang menyuapi Vivi, gadis
kecil yang cukup lucu yang pastinya masih mengenal dunia sebatas
dirinya saat ini. Betapa sederhananya. Aku ingin mengulangnya, tapi
kemuakkan majemuk ala anak muda seusiaku sudah tak memeberiku ruang
untuk berkhayal menjadi anak kecil lagi, karna bisa nonton Pirates of
caribean 5 langsung di bioskop tanpa berdesakan mengantre tiket
terdengar lebih nyata untuk di bayangkan.

Aku cukup paham dengan apa yang orang ini bicarakan. Polisi, razia
kendaraan, semena-mena nya menilang walaupun kelengkapan surat-surat
mobil nya sudah jelas. Tapi entah dengan alasan seperti apa dan
bagaimana mimik polisi yang dimaksud. Saat sipil menolak perintahnya
untuk menanda tangani surat tilang. Seandainya aku ada disitu. Mungkin
nada tinggi dan gesture khas mereka bisa ku saksikan bak Julian sedang
memerintahkan Mort untuk melakukan kehendaknya yang walaupun aneh tapi
tetap saja di rutinkan paling tidak satu kli dalam 1 bulan.

Beginilah keseharian ku di Bontang, amat sangat normal, hingga kadang
kadang melihat peran spongebob dan patrick pun aku bisa menganggap
mereka aneh, yah walaupun dengan kehidupan seperti apa pun mereka akan
tetap aneh. Kenapa juga aku harus mengomentari cartoon? OMG!

Aku tak heran, pembicaraan orang tadi terasa biasa, bahkan tak lebih
mengherankan dari moment saat mengetahui Green Day merilis 4 album
skaligus dan Lady Gaga terlihat manis di salah stu video clip
berlatarkan Italy dan Vespa. Aku jatuh cinta...

Monday, June 3, 2013

Datanglah Kepadaku...

Datang lah sebagaimana kamu merasa nyaman. Duduk lah disini, tak perlu di samping ku. Buat dirimu merasa damai dengan sekitar mu. Pilihlah orang orang yang tepat sebagai teman mu sebelum ini kita mulai. Pilihlah dimana kau akan hidup sebelum ini kita mulai. Tulislah cerita mu dengan tangan yang kau arahkan sesuai keinginanmu. Tertawalah , menangislah, diamlah sebagaimana kau merasa mau melakukannya tanpa bisikan dari siapa pun. Lakukanlah apa pun yang kau mau. Tak usah hiraukan itu benar atau salah. Aku akan selalu membela mu.


Tapi mendekatlah...


Tak usah kawatir. Aku tak memegang senjata, aku tak menyimpan dendam kepadamu. Aku bukan musuhmu. Senaif ini pun sebenarnya aku hanya ingin melihat kau menghabiskan waktu dengan dirimu sendiri. Aku ingin melihat kau terjatuh lalu bangkit saat masih mencoba meraih impian mu. Aku ingin melihat kau tetap berdiri dengan kaki mu sendiri dengan tak menoleh kepada bayangan mereka yang sebenarnya tak mengikuti mu. Dengan tetap percaya pada apa yang nantinya akan aku kata kan kepada mu.

Aku akan terus mencoba untuk mengingat bagaimana indahnya senyuman mu, tenangnya tatapan mu. Cantiknya wajah mu walau aku tak pernah bertemu dan mengenalmu hingga saat ini....

Sunday, March 10, 2013

AGAMA pada kolom tanda pengenal






NIK. Nama. Tempat Tanggal Lahir. Jenis Kelamin. Alamat. Pekerjaan. Masa berlaku tanda pengenal tersebut. & kewarganegaraan. Aku rasa sudah cukup untuk mengisi kolom kolom pada kartu tanda pengenal yang biasa kita kenal dengan kartu tanda penduduk / KTP yang lazim dipakai di republik ini. Hapuskan saja agama dari kolom
KTP dan aku yakin tak akan berpengaruh kepada kita, tak akan ada hal besar yang terjadi pada kita jika hal itu dilakukan. Memangnya apa yang akan terjadi? Tak ada! Aku berani bertaruh!

Aku bukan Atheis atau orang dari kelompok kelompok yang merasa dirugikan dengan dicamtumkannya agama pada kolom tanda pengenal, memangnya apa ruginya untukku! Hanya saja menurutku agama (dengan A kecil) memang sudah seharusnya berada di luar domain domain kenegaraan seperti NIK, Nama, TTL DLL.  Negara tak bisa (dan seharusnya memang tak akan pernah bisa) mengatur atau mencampuri domain keagamaan. Semisal mengatur boleh dan tidaknya seseorang untuk beribadah, siapa yang berhak dan tak berhak beragama, siapa yang harus beragama A dan siapa yang beragama B. Hal hal seperti itu sudah ada dan di atur di dalam domain keagamaan jauh berada di lur domain kenegaraan, itu hak tiap orang. Bukankah begitu? Selain itu agama ditakutkan (dimana biasanya memang) menjadi variable diskriminatif yang paling diskrimnatif. Seperti yang sudah, sedang atau (semoga tidak) akan terjadi. Lagipula kenapa harus memasukkan agama pada kolom tanda pengenal jika yang diakui dan dimasukkan pada kolom tersebut hanya 5 agama saja, bagaimana dengan agama agama local/ bagaimana dengan kaharingan, toluttang, kejawen dll? Apa pernah kita melihat salah satu agama tersebut ada pada kolom kartu tanda pengenal!?  Apa  sudah tidak ada penganut agama / kepercayaan local tersebut? Aku yakin masih banyak. Masih banyak saudara saudara kita yang di pedalaman, saudara saudara kita yang di pelosok yang masih memegang teguh dan mempercayain agama agama local yang sudah ada sejak zaman nenek moyang tersebut. Mungkin bagi orang orang modern seperti kita agama agama yang mereka masih pegang hingga saat ini lebih pantas di sebut sebagai kepercayaan, klenik,  animism atau apalah! Belum lagi masih ada beberapa teman teman atau saudara kita yang menjadi agnostic hingga atheis, dengan pemahaman mereka sendiri tentang konsep agama – tuhan. aku tak tau hingga sedalam mana sesama kita memahami atau mengartikan konsep ketuhanan hingga sebegitu gampangnya mencap paling ini dan paling itu di tengah mereka yang kurang ini dan kurang itu. Menganggap menjadi yng paling benar dan yang lain salah. Menganggap menjadi yang palig bersih dan yang lain kotor sehingga masih harus dibersihkan. Ok. Maaf ini menyimpang, seharusnya pembahasan tersebut tak ada disini. INTERMEZZO :D

Kembali pada ktp. Sebagaimana mestinya dan seperti maksud dari pembuatan awalnya. Ya sudah pasti sebagai tanda pengenal . dan skali lagi, menurutku NIK. Nama. Tempat Tanggal Lahir. Jenis Kelamin. Alamat. Pekerjaan. Masa berlaku tanda pengenal tersebut. & kewarganegaraan sudah cukup untuk mengisi  kolom kolom pada kartu tanda pengenal , sudah sangat cukup banget! Penambahan agama pada kolom kolom tersebut masih cukup klise di benakku. Menurutku kepercayaan seseorang cukup ada pada dirinya dalam hal ini adalah hati – pikiran, tak perlu di cantumkan di kertas yang ukurannya tak lebihh dari 5x4 cm. apakah saat bertemu dengan seseorang di suatu tempat dan kita terlibat perbicangan singkat dengan orang tersebut, apakah agama adalah hal yang pertama dia tanyakan? Bukankah biasanya nama, alamat, atau dari mana hendak kemana.? Benar begitu kan?  Karna kenapa? Karna agama itu adalah hal yang primer, agama itu bersifat personal! Orang asing akan merasa cukup untuk memulai pembicaraan dengan tau nama kita, selebihnya dia tak akan peduli. Dan bukankah aneh jika saat terlibat perbincangan singkat dengan orang yang baru kita kenal tapi malah agama yang pertama kli ditanyakan oleh orang tersebut, aku yakin bukannya mendapat kesan yang baik, Kita akan merasa risih, dan aneh kepada orang tadi, bahkan kita akan mencapnya sara, atau akan berpikiran macam macam kepada orang tersebut, karna merasa langsung di suguhi pertanyaan yang tidak wajar untuk memulai suatu perbincangan. Dan skali lagi dengan dicantumkannya agama pada kolom tanda pengenal ditakutkan bukannya memberi kebaikan tapi akan menimbulkan variable diskriminatif yang paling diskriminatif seperti yang terjadi selama ini. Dimana agama dijadikan sebagai parameter pembeda tentang siapa teman siapa lawan. Siapa musuh siapa kawan, dan dimana algoritme yang dipakai pun biasanya berasal dari luar domain yang menjadi factor.

Aku tau ini terdengar sulit dan bahkan mustahil. Akan banyak penentangan dari orang orang kanan jika dilakukan. Mungkin sekarang kalian berpikir aku gila. Tapi aku yakin aku tak sendirian,  aku yakin ada orang yang berpikiran sama dengan ku, dan aku harap nantinya, meskipun saat aku sudah tak ada sekalipun akan ada orang yang berani mengutarakan hal ini. dan akan hebat jika dia adalah orang yang memiliki kekuasaan dan bisa merealisasikannya.

SEKIAN , TERIMAKASIH!!!

Thursday, November 29, 2012

Balada Radang Tenggorokan...

Sudah 2 hari enggak ngerokok demi cepat sembuh, sudah 2 hari minum bergelas gelas teh hangat dan madu, sudah 2 hari enggak enak ngapa ngapain, sudah 2 hari, gak bisa nelan makanan, sudah 2 hari tidur jadi terganggu. ya alloh kapan ini sembuhnya nih....

Baru pertama kli ini nih ngerasain beginian, dan sumpah gak enak bangeeeett. jangankan makan bakso atau makanan berat lainnya, minum aja sakit loh... arrrrrggggggggggghhh
ngomong juga jadi terbatas banget, dan volume suara juga jadi pelan banget. dari yang biasanya ngomong ini ngomong itu dengan kejelasan bahan omongan yang mungkin hanya 5%, berubah jadi pendiam banget, membatasi kalimat kalimat yang akan atau harus ku ucapkan, kalem dadakan... shit

Aku benci pilek, karena saat mengalami hal itu aku terlihat seperti anak kecil, tapi........ aku 1000x lebih benci radang tenggorokan. ini lebih menyakitkan. jauh lebih menyakitkan... dari semua rasa sakit yang pernah aku rasakan, rasa sakit yang di berikan radang seperti sekarang terkesan lebih aneh, intensitasnya konsisten  banget, ibarat Motorhead yang tetap memainkan musik yang sama setelah 40 tahun lebih orgasme dari panggung ke panggung dengan rock n rollnya... << masih sempat bermetafor aja yes dalam keadaan kayak gini, moron!


-------------------------------------------------



Saat bangun tidur semuanya akan jadi lebih baik... aku sering banget berpendapat seperti itu saat mengalami masalah atau sakit, sudah 2 hari juga aku berpendapat seperti itu, relain tidur cepat dan berharap saat aku bangun jam 06:00 sakit yang ku rasakan di tenggorokan ini sudah reda atau hilang...  tapi enggak ada perubahan! DAMN!!!

Sakitnya lagi gak ada orang yang bisa ku jadiin objek mengeluh, udah enggak ada ummi, dulu sih sakit dikit aja ngeluhnya ke ummi bisa berjam jam, hhhmmmm how i miss my mom? :'(

Sekarang sudah gak bisa kayak gitu lagi, mbak juga jauh, lagian aku gak mau buang buang waktunya hanya untuk dengarin rengekan adeknya, dia pasti sibuk ngurusin 2 anaknya...


Yah jadinya gini nih, aku ngeluhnya di blog, seenggaknya kalau ada yang baca. pasti ada yang baca lah, yaaahh kalian udah jadi sarana ku untuk ngeluh, walaupun secara gak langsung.





Tarik nafas panjang : sambil berharap sakit di tenggorokan ku cepat reda atau kalau bisa sembuh total lah!




Ya oloh, please ya sembuhin, aku gak janji bakal sholat 5 waktu atau naik haji tahun depan tapi janji kalau aku gak bakal minum minuman beralkohol lagi apa kurang memenuhi syarat untuk nazar kesembuhan dari sebuah penyakit, ayolah, aku tau ini masalah kecil untuk mu, please!!!

 
| - |